NIKMATNYA SELINGKUH MUAKNYA DOSA Selingkuh itu nikmat, “kata para peselingkuh. Kenapa? Sebab dalam peselingkuhan ada tantangan dan petualangan. Dalam petualangan, ada pemanjaan terhadap nafsu yang dikeluarkan dari kerangkeng kebenaran dan kejujuran. Lalu ada dosa yang dijubahi oleh rasa takut dan khawatir. Ada rasa nikmat yang disembunyikan dlam kesemuan dan penyimpangan. Itulah nikmatnya kegelapan. Dalam statistic perselingkuhan pria lebih menonjol. Walaupun sesungguhnya para wanita juga menginginkan perselingkuhan ketika rumah tangganya mulai tidak harmonis. Pria pun berselingkuh disebabkan adanya factor elementer dalam hubungan suami istri mulai keropos. Ada yang berselingkuh karena sekedar iseng, atau menikmati kejenuhan. Ada juga yang berselingkuh dengan serius sampai tenggelam dalam selimut nafsunya. Ada yang berselingkuh karena memang ia petualang eksotis. Ada yang berselingkuh karena persellingkuhan tidak lagi menjadi norma tetapi memang menjadi bagian dari ideology liberalisme. Dan yang paling aneh adalah jika berselingkuh itu sebagai status social dan label kejantanan. Rumahku adalah syurgaku. Kata itu paling popular dalam agama. Elemen-elemen surgawi di era modern telah sirna dari tiang-tiang penyangganya. Para penghuni rumah itu telah merobohkan sendiri melalui pengeroposan psikologisnya setiap saat, setiap hari, setiap minggu dan seterusnya. Lalu roboh diam-diam. Bahkan kekecewaan itu ia bangun dengan kekecewaan berikutnya, peselingkuhan. Tetapi, sesungguhnya juga bukan karena surga rumah tangga yang utuh itu dirobohkan oleh penghuninya. Namun juga oleh tetangga, teman kantor, eksotisme di luar, industri eksotisme, dan fasilitas yang memanjakan. Sudah waktunya pasangan-pasangan membangun masa depan muthmainnah (ketentraman dan kedamaian). Syaratnya sederhana, memulai pandangan hidup dengan mengembalikan usaha, ikhtiar dan kegagalan kepada Allah. Ketentraman dan kedamaian akan terus sirna manakala jiwa Anda tidak pernah kembali kepada Allah sebagai tujuan hidup. Bahkan ketika Anda masih mengembalikan prestasi yang Anda peroleh saat ini sebagai upaya dan daya Anda sendiri. Bukan sebagai anugerah Allah dan Anda pun akan terus tergoda oleh perselingkuhan. Perselingkuhan, karenanya adalah eksploitasi dari nafsu lawwamah. Nafsu yang ambisius terhadap hal-hal yang hedonis, meterialistis dan kemewahan lainnya. Apalagi dunia lawwamah telah muncul dalam tawaran pesonanya melalui goyang para persikmania, pusar, perut para wanita, seksisme yang berbunga di sejuta trotoar dan etalase, dalam prostitusi kebudayaan kita. Ibu-ibu sangat membenci perselingkuhan. Kaum perempuan lajang yang sedang berpacaran juga paling benci dan dendam dengan perselingkuhan. Dan sesungguhnhya, kaum pria juga membencinya setengah mati jika pasangannya berselingkuh. Tetapi kesimpulan dari semua perselingkuhan di dunia ini hanya karena seluruh pasangan telah kehilangan Tuhan dalam harmoninya. Membangun kejujuran itu sulit. Menjadi tidak sulit ketika Anda mulai belajar jujur. Jujurlah kepada Allah dengan mengatakan apa adanya kepada-Nya. Minus dan plus diri Anda. Katakan dosa-dosa Anda kepada Allah niscaya Allah memeluk Anda dengan pelukan yang lebih membahagiakan ketimbang keinginan bahagia semu si balik perselingkuhan.
Selasa, 08 November 2011
Sabtu, 05 November 2011
Penetapan Idul Adha
Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari
ibadah Haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah
hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah,
sebagaimana sabda Nabi saw.:
«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»
Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibn.
Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar,
“Hadits ini sahih, sekalipun beliau berdua [Bukhari-Muslim] tidak
mengeluarkannya”).
Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits
al-Jadali berkata, bahwa amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian
berkata:
«عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ
e أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ
وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا»
Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami
menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak
bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka
kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud,
al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya
bersambung, dan sahih.”).
Hadits ini menjelaskan: Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah
haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan
wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada amir Makkah,
sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan haji dilaksanakan, untuk
melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan
kesaksiannya kepada amir Makkah.
Sekilas Tentang Idul Adha
Idul Adha (di Republik Indonesia, Hari Raya Haji, bahasa
Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari
raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi
Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk
Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan
domba.
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan
melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul
Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati
perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti
putranya.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah,
hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga
beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.
Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab
Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang
melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik
Haji.
Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang
dilaksanakan umat Muslim.
Minggu, 30 Oktober 2011
Sajian Istimewa Anti Hijab
Di Ibu Kota Kaum Sufi, tiba-tiba terpampang spanduk-spanduk yang mengiklankan menu-menu restoran para Sufi. Para penempuh mulai tersenyum hatinya, dan saling mendiskusikan, menu mana yang harus mereka kunjungi untuk makan malam. Tiba-tiba para penempuh terjengah ketika memandang spandung kecil, tapi cukup menonjol, agak tersembunyi di celah-celah spanduk besar yang ada. “Nikmati Sajian Istimewa Menu Anti Hijab.”
Para penempuh tiba-tiba hasrat ruhaninya lapar seketika, disertai dahaga yang memuncak. Qalbunya gemetar, nafsunya tunduk patuh di depan tulisan itu. Ketika membaca iklan itu, airmata mereka sudah meleleh. ”Astaghfirullahal ‘Adziim…!” begitu mereka serentak mendesahkan jiwanya.
Di depan gerbang Kafe Sufi antrian panjang sampai ribuan orang. Mereka membeli tiket khusus untuk mendapatkan “Menu Anti Hijab”, dan mereka harus membeli tiket itu dengan Puasa 10 hari lamanya, dan jika ingin dapat VIP, puasanya 41 hari, penuh dengan keikhlasan yang murni.
Yang dapat Free Pass juga ada, antara lain wartawan Cahaya Sufi, he..he..he…Walau sedikit nakal, dimaklumi, namanya juga wartawan. Tetap saja dapat perlakuan khusus.
Seorang pelayan yang elok rupawan jiwanya, mulai melayani mereka. Semakin mereka berebut, malah semakin mereka terlempar ke belakang. Karena menu ini tidak boleh dimakan dengan hawa nafsu, sebab kalau memakan dengan hawa nafsunya malah ia terhijab dan tersiksa. Bahkan siapa yang ingin coba-coba, ingin iseng, langsung terhempas dalam kehancurannya.
Para pelayan, akhirnya harus memilih, siapa yang lebih pasrah dan lebih ridho, lebih ikhlas dan lebih cinta kepada Allah swt, langsung dipersilakan.
Musik Istighfar, deru konser sholawat dan nada kalimah thoyyibah, berpadu dalam musik Kafe Sufi ini, khusus mengantar sajian-sajian menunya.
Para penatang yang tiba sebenarnya tidak ingin sekadar menikmati menu-menu di sana, tapi bagaimana caranya memasak dan resep menu di sajian istimewa kali ini.
Seorang pelayan datang menyodorkan menu-menu utama. Diatas kertas tertulis “Hijab adalah Siksaan yang menjauhkan dirmu dengan Allah.”
Lalu di kertas itu pula tertuang menu-menu sajian Anti Hijab:
Masuklah dapur menu masakan anti hijab ini dengan menutup mata kepala dari kain yang dipintal dari semesta lahir batin, agar segala hal selain Allah tertutup.
Ambillah air istighfar untuk direbus dulu dengan api kesadaran taubah.
Cucilah tangan anda dan segala alat-alat dengan air keikhlasan, dicuci dari kotoran memandang amal baik dan ibadah. Sebab memandang amal sendiri itu adalah lapisan hijab.
Buang semua rasa takjub pada diri sendiri dan hasrat selain Allah.
Masukkanlah ke dalam kendhil yang sudah mulai mendidih dan menggemuruhkan dzikrullah dibalik bunyi air mendidih itu, sejumlah dedaunan dari pohon ma’rifat, yang ditanam di bumi yaqin, dan cabang-cabangnya tumbuh menjulang ke langit Ilahi.
Jangan lupa garamnya yang dari samudera Quthubus Sab’ah (Samudera tempat berenangnya Tujuh Quthub dunia).
Beri pemanis dengan sesendok gula harapan, anugerah dan indahnya beribadah.
Nah, sekarang para konsumen mulai diingatkan agar tidak memasuki wilayah hijab yang tirainya sangat gelap gulita apalagi dibalik tirainya semakin gulita mengerikan.
Musibah terbesar manusia adalah hijab. Semua ini akan terbuka, berganti Cahaya Ma’rifah yang agung. Ketika terbuka, akal jadi cerdas, pikiran jadi jernih, hati jadi terang benderang, ruh berhembus kencang menuju Allah, dan Sirr menikimati kemesraan dengan Sang Kekasih di Kafe ini.
KH M LUKMAN HAKIEM MA
WAHDATULWUJUD
Wiyoto woting waskitha kang winasis
Jajaning janma jatining jasad
Jumujuging jaladara jantra jinajah.
Amrih amining amaranti
Amina mastani mantra mastadi
Samudananing samudra samun
Sesongaran sasat susantiningrum.
Mungguh asmaning mung kanggo mupus
Dipeh prana nalika daruna dumateng
Tebining dhandhaka anyatrani
Lubering ludira anebaki daruni.
Najan hamung kinanthi sih utami
Awit diniyati tan kenging rinuyit,
Anggraitaa murih wekasanipun jrih
Muncrat handalidir mring bantala.
Tiba grahaning Hyang Suksma
Memitri awit saking nggenira
Njangkah tan angoncati
Tibaning Rohul Kudus amrih miranti.
Jinantra ontran-ontran kang amurwat
Murwating angkara murka
Nabrak, nunjang, ngobok-obok
Nggelar kadurjanan
Ngobrak-abrik tatanan
Salang-tunjang
Gede-cilik tanpa wirang.
Ana jalma mimba Gusti
Ngaku Allah sinarawedi
Ngendi ana titah padha karo Gusti
Kadunungan iblis pinasthi.
Manunggal kuwi ‘ra teges sami
Hamung celak raket ring Gusti
Hamung Allah kang pinuji-puji
Ya mung jalma najan wali.
Nyuwun ngapura mring Hyang Widhi
Wani nranyak mring Malikul’alam
Wus madhani Sing Gawe
Urip
Dudu kuwi wahdatulwujud.
Sing bener kuwi ya mung
aran titah
Ora samar
angambrah-ambrah
Aja nerak hukume lumrah
Kawistra ora narimah.
Duh Gusti Kang Maha
Lestari
Mugi kersa paring
lubering pangastuti
Kang samya memesu ring
karsaning Gusti
Najan sasarsusur yekti.<photo
id="1" />
Jumat, 28 Oktober 2011
Syukur bersama Allah
Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Riwayat dari Abdullah bin Amr ra:
“Tuhanku mendidikku, dan “Rasulullah saw, masuk ke dalam rumahku, lalu bersabda, “Wahai Abdullah bin Amr, bukankan aku diberi informasi bahwa sebenarnya dirimu sangat ketat (memaksa diri) dalam sholat malam dan puasa di siang hari?”
Aku menjawab, “Saya memang melakukannya…”.
Lalu Rasulullah saw, bersabda,
“Cukuplah bagimu sebulan itu puasa tiga hari. Satu kebaikan itu sebanding dengan dengan sepuluh kebaikan, maka (jika anda melakukan puasa tiga hari setiap bulan) sama dengan puasa setahun penuh….” (Hr. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzy, Nasa’I, Ibnu Majah, Daramy dan Ibnu Sa’d) Dia mendidik adabku dengan baik.”
Dalam hadits ini ada rahasia-rahasia:
1. Adanya berita gembira atas kesinambungan cahaya amal dengan cahaya amal yang lain tanpa terhenti, walau pun ada jarak waktu yang jauh.
2. Berlipatgandanya pahala amal pada ummat ini, satu kebaikan sebanding dengan sepuluh kebaikan, agar hatinya bangkit untuk amal kebajikan.
3. Tidak adanya keterpaksaan yang membuat si hamba jadi bosan.
4. Terus menerus berdzikir hingga hati tak tertimpa kealpaan.
5. Kepastian iman terhadap janji dan kebajikan kemuliaan Allah swt.
Semua perilaku tersebut merupakan tingkah kaum ‘arifin yang melepaskan diri dari hasrat duniawi dan ukhrowi, dimana hasrat citanya hanyalah Tuhan mereka. Maka siapa pun yang himmahnya hanyalah Rabb, tiadalagi hasrat lain baginya.
Yahya bin Mu’adz ra, dalam munajatnya mengatakan:
“Ilahi, bila aku mengenalMu, sesungguhnya Engkau telah memberi petunjuk padaku. Jika aku mencariMu, sesungguhnya karena Engkau menghendakiKu. Jika aku datang kepadaMu, sesungguhnya Engkau memilihku. Jika aku taat padaMu, sesungguhnya karena Engkau memberi taufiq kepadaku. Dan jika aku kembali kepadaMu, itu karena Engkau menghampiriku.”
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as telah bermunajat:
“Oh Tuhan, bagaimana caraku bersyukur atas nikmat-nikmatMu, sedangkan setiap rambut yang tumbuh saja ada dua nikmat?”
Allah swt menjawab:
“Wahai Musa! Bila engkau tahu bahwa dirimu sangat tak berdaya bersyukur kepadaKu, sesungguhnya engkau benar-benar telah bersyukur kepadaKu….”
Allah swt, mewahyukan kepada Nabi Dawud as:
“Bersyukurlah atas nikmatKu kepadamu…”
Nabi Dawud as, menjawab:
“Ya Allah bagaimana aku bisa bersyukur kepadaMu, sedangkan syukurku kepadaMu itu adalah nikmat teragung bagiku?”
“Bila engkau tahu itu, sebenarnya engkau hambaku paling bersyukur padaKu…” firmanNya dalam wahyu kepadanya.
Muhammad bin as-Sammak ra mengatakan, “Ingatlah kepada Dzat yang mendahului ingatNya sebelum dzikirmu, dan cintaNya sebelum cintamu. Apa pun yang kau dzikirkan tak lain jkecuali karena dzikirNya kepadamu, dan tak ada cintamu kepadaNya kecuali karena cintaNya kepadamu.”
Abu Bakr al-Wasithy ra, menegaskan, “Siapa yang lupa mengiat Allah Ta’ala berarti ia telah terkena Istidroj..”
Perlu diketahui bahwa sifat terendah dari seorang arif Billah adalah bila seseorang hatinya hidup bersama Allah tanpa ikatan apa pun, yaitu mengingat Allah, hanya kepada Allah. Hal demikian jelas, seperti dalam firmanNya, “Sesungguhnya dzikir Allah itu paling besar…”.
Dikatakan mengenai firman Allah Ta’ala:
“Sangat sedikit hamba-hambaKu yang sangat bersyukur”, artinya adalah sangat sedikit orang yang melihat anugerahKu ketika ia bersyukur kepadaKu..., Bersama Allah, kita bersyukur pada Allah.
Nabi Musa as, berkata:
“Ilahi, bagaimana Adam mampu bersyukur kepadaMu? Karena Adam Engkau cipta dari TanganMu, dan Engkau hembuskan RuhMu, dan Engkau posisikan di syurgaMu, serta Engkau perintah para malikat bersujud kepadanya, lalu mereka pun sujud?”
Allah swt, menjawab:
“Hai Musa! Adam tahu bahwa semua itu dariKu, lalu dia memuji karenanya.”
Siapa yang taat kepada Allah swt, sesungguhnya ia taat karena pertolonganNya, maka ia dapatkan anugerah. Siapa yang maksiat kepada Allah swt, maka karena bagian takdirNya yang ia maksiat kepadaNya. Bagi Allah ada hujjah baginya. AnugerahNya mendahului ketaatan hambaNya sebelum ia taat, dan keadilanNya mendahului maksiatnya sebelum ia berbuat maksiat. Karena Allah adalah Maha memberlakukan apa yang dikehendakiNya.
Dalam suatu riwayat Nabi Ibrahim as bermunajat :
“Oh Tuhanku, kalau bukan karena Engkau bagaimana aku mengenal siapa Engkau?”
Abu Abdullah ra, ditanya, “Bagaimana kami tidak senang dengan pujian dan sanjungan?”
“Semata karena lupa mengingat anugerah Allah pada kalian, lupa mengingat kebaikan pertolonganNya yang mendahuluimu. Siapa yang lupa anugerah dan ingkar nikmat, nikmat pun akan diterima sebagai derita…” jawabnya.
Anak-anakku…
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberimu ma’rifat, dan menolongmu untuk taat kepadaNya tanpa minta balas kebaikan darimu dan tanpa minta pertolongan dari arahmu, karena itu sudah seyogyanya anda berdzikir kepadaNya dan berbakti kepadaNya tanpa minta ganti rugi dan kecukupan dariNya.”
Banyak sekali ragam kelompok ahli dzikir, diantaranya:
* Ada yang berdzikir karena tujuan meraih anugerah Islam,
* Ada yang berdzikir karena demi ashlus-Sunnah wal-Jamaah,
* Ada yang berdzikir karena adanya anugerah dibalik dzikirnya, hingga hati dan lisannya kelu, akalnya melayang, ia lebur dalam keagunganNya, bergerak dalam kemuliaanNya, hangus dalam mencintaiNya, disaat ia tahu bahwa seluruh amal itu tidak akan pernah bisa tegak kecuali bersamaNya.
Dzikir ada dua arah:
- Dzikir yang menimbulkan rasa takut dan rasa takut penuh cinta.
- Dzikir yang melahirkan rindu dan cinta.
Rasa takut dan cinta adalah dzikir bagi orang yang berdzikir bersama diri sendiri, kemudian ia melihat itu semua karena Dzikrnya Allah padanya yang menyebabkan dzikirnya kepada Allah Ta’ala, kemudian ia tahu bahwa dengan dzikrullah membuat sambung pada Dzikrinya Allah pada dirinya.
Sedangkan rindu dan cinta dibalik dzikir adalah dzikirnya orang yang mengingat Dzikrnya Allah di zaman Azali, hingga tiada maujud dan sirna diri di dunia, kemudian sampai abadi. Lalu dijumpai bahwa Ingatan Allah padanya telah ada sejak Azali, abadi selamanya. Sedangkan dzikirnya sendiri, malah tercampuri kotoran syahwat, teraduk oleh kealpaan demi kealpaan.
Maka sangat berbeda jauh antara orang yang masuk pada Allah Ta’ala dengan melihat dzikirnya sendiri, dan antara orang yang masuk kepada Allah Ta’ala dengan melihat anugerah dan kemuliaanNya. Perlu diketahui bahwa dzikirnya hamba kepada Allah Ta’ala, jika dibandingkan dengan penyandaran dzikirnya Allah Ta’ala pada si hamba, ibarat debu di bawah derasnya hujan.
Dengan dzikir kepadaMu hiduplah ejekanku hai pengkhayal
Dan dengan DzikirMu kepadaku mendahului dzikirku sungguh teragung!
Engkau beri anugerah besar, hingga aku tak mampu mensyukurinya
Manalagi anugerah elokMu yang mampu kusyukuri?
KH M Lukman Hakiem MA
Wirid Lebih Utama Ketimbang Pahalanya
Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
Tidak ada yang meremehkan konsistensi wirid (ketaatan di setiap waktu) kecuali orang yang sangat bodoh, karena warid (pahala wirid) itu akan di dapat di negeri akhirat, sedangkan taat atau wirid itu akan lenyap bersama lenyapnya dunia ini.
Sedangkan yang lebih utama untuk diprioritaskan adalah yang wujudnya tidak bisa diabaikan. Wirid adalah HakNya yang harus anda laksanakan. Sedangkan warid adalah sesuatu yang anda cari dariNya. Mana yang lebih utama antara sesuatu yang dituntut oleh Allah padamu, dibanding apa yang anda tuntut dari Allah?
Mayoritas ummat ini lebih banyak berburu pahala dan janjinya Allah swt. Dalam segala gerak gerik ibadahnya. Padahal yang lebih utama adalah ibadah dan kepatuhannya itu sendiri. Sebab kepatuhan dan ubudiyah yang dituntut oleh Allah swt, dan menjadi HakNya, itu lebih utama dibanding hak kita yang besok hanya akan bisa kita raih di akhirat.
Sebab kesempatan melaksanakan HakNya saat ini dibatasi oleh waktu dunia, dan akan habis ketika usia seseorang itu selesai. Karena itu selagi di dunia, ibadah, amal, wirid harus diperbanyak sebanyak-banyaknya. Soal pahala dan balasan di akhirat itu bukan urusan kita. Manusia tidak berhak mengurus dan menentukan pahalanya. Semua itu adalah haknya Allah swt. Yang telah dijanjikan kepada kita, karena merasa menginginkannya.
Ibnu Athaillah lalu menegaskan, mana lebih utama tuntutan anda apa tuntutan Allah?
Disinilah lalu berlaku pandangan:1. Taat itu lebih utama dibanding pahalanya.
2. Doa itu lebih utama dibanding ijabahnya.
3. Istiqomah itu lebih utama dibanding karomahnya.
4. Berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya.
5. Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang syurga seisinya.
6. Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan.
7. Berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya.
8. Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan.
9. Dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati.
10. Wirid itu lebih utama ketimbang warid.
11. dan seterusnya.
Para sufi sering mengingatkan kita, “Carilah Istiqomah dan jangan anda menjadi pemburu karomah. Sebab nafsumu menginginkan karomah sedangkan Tuhanmu menuntutmu istiqomah. Jelas bahwa Hak Tuhanmu lebih baik dibanding hak nafsumu.” Abu Syulaiman ad-Darany menegaskan, “Seandainya aku disuruh memilih antara sholat dua rekaat dan masuk syurga firdaus, sungguh aku memilih sholat dua rekaat. Karena dalam dua rekaat itu ada Hak Tuhanku, sedangkan dalam syurga firdaus hanya ada hak diriku.”
KH DR M Luqman Hakiem MA
Langganan:
Postingan (Atom)

